Sunday, 30 July 2017

I Am 25 Years Old and This Is How I (Currently) Think About Marriage

I turn 25 years old this year (it's 2017). Buat ukuran perempuan Indonesia, umur-umur segini emang udah rawan banget ditanyain, "Kapan nikah?" atau "Kapan nyusul?". Nggak terhitung sih udah berapa ribu orang yang nanya ke saya hal itu. Jawaban saya pun bisa macam-macam:

"Besok lah, kalau nggak hujan."
"Nanti hari Sabtu."
"Nunggu ada yang ngelamar."
"Santai lah, masih pengen sendiri."
"Wah, mau ngebiayain ya?"
"Gak usah nanya-nanya deh kalo nggak bakalan nyumbang."
"Doain ya secepatnya."
"Bentar, nunggu bisa resign tanpa bayar penalti."
Dan berbagai macam jawaban lainnya, yang manapun yang terpikir duluan.

Manusia emang banyak macemnya sih, dengan berbagai karakteristik. Ada yang rasa ingin tahunya melebihi tinggi Empire State Building, otaknya lebih miring dari Menara Miring Pisa, dan lebih absurd dari Stonehenge. Nggak kenal deket, tapi nanyain hal-hal pribadi. Kalau emang kenal deket sih ngejawabnya enak ya, bisa santai. Sayangnya, lebih banyak yang cuma basa-basi-busuk padahal sebenarnya nggak peduli. Saya pun nggak ngerti motif di balik pertanyaannya apa.

Selain karena masih senang melajang, ada beberapa faktor lain sih yang membuat saya belum menikah hingga tahun ini. Kemudian tentu saja muncul berbagai macam komentar:

"Yakin Suv gak mau nikah cepet-cepet? Mau nunggu sampai kapan? Umur kamu makin nambah lho, yakin pacar kamu yang sekarang bakalan masih mau sama kamu? Mending dia nyari yang lebih muda, lebih cantik. Pasti banyak yang mau deh."

Sakit hati sih dibilangin gitu. I feel underestimated. Who the hell they think they are? Tapi ya bagaimana lagi, namanya juga mulut orang, komentarnya nggak bisa ditahan. Saya hanya bisa tersenyum dan menjawab seadanya.

Meskipun belum menikah, tapi saya paham betul bahwa menikah itu butuh persiapan matang. Nggak bisa hanya didasarkan atas suka-sama-suka, keinginan untuk punya hubungan "halal" ataupun karena ingin hidup bersama. I know marriage means more than that, and I know that my boyfriend and me still need to take care of many things before we really decide to jump into marriage.

Halah klise banget sih lo ngomongnya, Suv. 

Judge me as you like. It's not like I care a bit about it.

Tapi segalanya bisa berubah kok kalau orang tua sudah bertitah. Hehehe.

Salah satu yang menjadi pertimbangan saya dalam pernikahan adalah: will I stop working and be a full-time housewife? Pacar saya memang nggak pernah memaksakan kehendaknya, bahwa saya harus bekerja atau harus jadi ibu rumah tangga secara penuh. Ia akan selalu mendukung segala keputusan dan keinginan saya (at least sampai saat ini sih begitu). Tapi, tentu saja saya akan memikirkannya lebih lanjut, lagi dan lagi.

Sebagai perempuan yang bercita-cita ingin hidup mandiri tanpa bergantung dengan orang lain, saya tentu ingin tetap bekerja meskipun sudah menikah. Saya paham, dalam agama yang saya yakini, laki-laki bertanggung jawab menafkahi saya lahir dan batin. Tetapi, saya sudah diajari menjadi mandiri oleh kedua orang tua saya sejak kecil, sekarang pun saya sudah punya penghasilan sendiri. Rasanya, saya akan merasa aneh ketika nantinya harus "minta" uang lagi ke suami. Besides, women needs to buy many things, right? Bags, shoes, clothes, make up, and many more~ Kalau nanti suami mau membiayai sih alhamdulillah yaaah, puji Tuhan~

Di sisi lain, jelas saya inginnya di rumah saja. Ngurus rumah, ngurus anak, berbakti pada suami jiwa dan raga (ahelah). Apalagi kalau jadi menikah dengan pacar yang sekarang, hidup kami akan berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain keliling Indonesia. It will be really hard for me to look for a steady-full time job. Palingan yaaa freelance. Belum lagi nanti kalau punya anak. Harus pindah sekolah, daftar ulang di sana-sini, berpisah dengan teman-teman lama dan berteman dengan orang-orang baru. We still have so many things to prepare. Belum lagi beli rumah dan kendaraan....
We have not planned until that far.

For now, the farthest we can prepare is the wedding money.
Mohon doanya ya, semuanya.

The last but not least, terima kasih karena telah menyempatkan waktu untuk membaca tulisan ini.
Have a nice day!

Monday, 24 July 2017

Cerita Tentang Berkerudung

Saya berumur 25 di tahun 2017 ini. Saya beragama Islam seumur hidup saya, dan telah memutuskan untuk berkerudung sejak tahun 2008. Berarti, sudah 9 tahun saya berkerudung.

Pengalaman berkerudung saya bisa dibilang cukup mudah. Hampir tidak ada yang menjelek-jelekkan saya (paling tidak, secara langsung ke hadapan wajah saya), or simply because I choose to be indifferent of all negative comments. Either way, I am at ease.

Yang orang-orang tahu tapi kebanyakan memilih tidak peduli, adalah fakta bahwa berkerudung itu sebenarnya tidak mudah. Berkerudung bisa saja hanya perihal cara berpakaian, tapi filosofi berkerudung yang diusung seseorang menjadi begitu berat, apalagi jika kita tinggal di Indonesia, di mana banyak orang gemar berkomentar tentang kehidupan pribadi orang lain.

Berikut adalah beberapa komentar/pertanyaan yang PASTI kita jumpai/rasakan:

  1. Kamu Islam kan? Kenapa nggak pake kerudung? Bukannya Islam memerintahkan untuk menutup aurat?
  2. Yakin kamu mau berkerudung? Jangan main copot-pasang lho ya.
  3. Lah bukannya si Anu itu berkerudung ya? Kemarin gue liat dia di mall pake hotpants loh!
  4. Yaelah si Anu mah kerudungan cuma di sekolah/kantor doang. Sekalian aja lepas kerudungnya ketimbang setengah-setengah gitu.
  5. Kok kerudungnya ga syar'i sih? Kenapa masih suka pake skinny jeans? Kalo masih pake pakaian yang seksi-seksi mah ga usah kerudungan dulu.
  6. Si Anu tuh ya, kerudungan cuma buat kedok doang kayaknya. Clubbing mah jalan terus!
  7. Dan seterusnya.
Salah satu teman sekelas saya pernah bertanya ke guru PAI, "Pak, gimana dengan perempuan yang pake kerudungnya cuma pas ke sekolah aja, tapi pas main masih copot kerudung?"
Guru saya menjawab dengan santai, "Loh! Nggak apa-apa! Itu bagus kok! Paling tidak, dia sudah berusaha menyempatkan waktunya beberapa jam untuk menutup auratnya. Seharusnya orang seperti itu jangan kita cibir dong, tapi kita semangati dan kita doakan supaya berkerudung ke manapun dia pergi."

Jawaban itu memang sederhana, tapi saya suka dengan jawaban Pak Guru. Membuat kita yang belum berkerudung jadi termotivasi. Percayalah, lebih banyak muslimah yang memutuskan berkerudung karena disemangati seperti itu ketimbang disuruh. We know that it's our obligation, but it's never an easy step to decide wearing veil. Never.

Ada yang berpendapat bahwa memakai kerudung tidak berkaitan dengan akhlak. You may wear veil and be a bitch. Saya pun masih ada di antara setuju dan tidak, atas pernyataan barusan. Setelah 9 tahun berkerudung, saya sadar masih banyak yang perlu saya perbaiki. Masih suka ngomongin orang? Masih. Masih suka mengeluh? Masih. Masih suka suudzon? Masih. Masih belum cukup sedekahnya? Belum. Tapi, saya kan nggak harus melepas kerudung saya karena masih melakukan hal-hal itu. Kalo berkerudung harus nunggu suci dulu mah, tidak akan ada perempuan berkerudung di muka bumi ini. Kalau memang saya, atau muslimah lain melakukan kesalahan, tolong ingatkan, jangan mencibir.

"Malu kali sama jilbab. Mending lo lepas aja deh."

Saya justru merasa sedih dengan yang berkomentar seperti ini. Bukannya mendukung, kenapa ia justru memprovokasi untuk melepas kerudungnya?

Memutuskan untuk berkerudung itu tidak mudah. Setelah memutuskan untuk berkerudung, kita dihadapkan oleh banyak masalah, misalnya diskriminasi, ekspektasi yang lebih tinggi, maupun batasan atas pilihan-pilihan.

Ketika bersekolah di Bali, sekolah-sekolah negeri memang melarang siswanya untuk mengenakan atribut keagamaan, namun hal ini berlaku untuk seluruh agama dan kepercayaan. Siswa Hindu dilarang mengenakan udeng ke sekolah (hanya gelang upacara yang diperbolehkan), siswa Islam dilarang mengenakan kerudung maupun peci/kopiah, siswa Kristen/Katolik dilarang mengenakan kalung salib, siswa Buddha dilarang mengenakan atribut keagamaan (mohon maaf, saya kurang tahu atribut agama Buddha?). Tapi, setahu saya di sekolah tidak ada siswa yang mengeluh ataupun ribut tentang peraturan sekolah. Kami berpikir, jika memang ingin berkerudung, masih banyak sekolah bagus yang bisa mengakomodasi. Pilihan kami memang terbatas, tapi bukan tidak ada, and we embrace it. Lagipula, tidak ada larangan berkerudung di tempat umum. Bebas, kok.

Batasan untuk memilih pekerjaan? Are you serious? Kadang saya heran dengan orang-orang yang mengeluh tidak diterima bekerja di perusahaan X, karena perusahaan tersebut melarang pegawainya untuk berkerudung. Di lain kesempatan, orang yang sama juga percaya bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah SWT. Yaudah sih!

Saya kayaknya selow menghadapi masalah seperti ini. Kalau memang percaya bahwa rezeki itu sudah diatur Allah SWT, ya sudah, terima saja kenyataan bahwa perusahaan itu memang tidak menerima perempuan berkerudung. Masih banyak perusahaan yang tidak menerapkan larangan berkerudung, dan kita tetap punya kesempatan untuk berprestasi. Shine your glow, and your achievement will follow. 

Selow banget, ya?

Anyway, kayaknya tulisan ini udah melenceng ke mana-mana deh, nggak sesuai sama tujuan awalnya (emang tujuannya apa, Suv?), so I will end here. Please let me know your thought about it in anyway possible. Mau lewat komen di sini, chat secara pribadi, mention di Twitter, apapun. 

Satu lagi, terima kasih sudah menyempatkan diri untuk membaca tulisan ini ya. See you in my next thought!






Disclaimer: Tulisan ini berisi opini pribadi saya, pemahaman saya, dan bagaimana saya menginterpretasikannya. Apabila ada yang salah maupun perlu diperbaiki, silakan tuangkan dalam kolom komentar. Anda boleh tidak setuju dengan tulisan ini. Pendapat kita boleh berbeda, namun apabila saya memiliki kesalahan, mohon dibenarkan. Terima kasih telah berkunjung!

Tuesday, 21 February 2017

Unfinished Writing

You have been away from pen and paper for too long, you cannot finish a single piece of writing.
You have been so tired of the world, you cannot even elaborate what you feel into words.
You have been so disappointed, you decide to left it unsaid so you won't have to remember it again.
You have been so angry, you decided to shut the fuck up because you know saying it will not worth it.

Life is so funny, God is so powerful. Every time you think you've done, every time you think you've had enough, God always stretch your limit.

Whenever you think, "I could not be having worse time than this.", God proves you wrong.

I've experienced it right now, to the extent that I think I can no longer hold it. I've had ENOUGH. It's beyond my tolerance, yet I have no other choice than trying to get through it, and wait for every day to pass by. I don't even care about my ambitions. I don't even care about achievement. I just think I've had ENOUGH.

I have loved writing for years; since I was in elementary school. However, I have not write a single blog post since... when.... 2015?

THAT IS PATHETIC.

I write a lot, yet I never finished them. I think a lot, yet I am afraid to throw away my ideas because that's not how my current life works. It's now filled with obeying my bosses, and being in the line, not having a decent chance to improvise or being creative. I'm becoming dull.

I know every individual living in this world must have experienced what I have today. I know that every one must have had their hard times. Yesterday, I chatted with one of my bestfriends and she said very beautifully, "It'd be unfair if we expect people to fully understand us. People go through different difficulties. I've had mine, you've had yours. I'd never experience yours, neither would you. It's a paradox, about who suffer more. You cannot measure suffer."

I know this is not a beautiful piece of writing, but I decided to write anyway.
Sometimes, ugly thing is better because it is done.
Or would you rather have a beautiful but unfinished one?

Wednesday, 23 September 2015

Tentang Mencari Kerja (Part I)

Photo was taken from Google. It's not mine.


Sejatinya saya ingin nulis hal ini sejak tahun lalu, sejak berhasil keterima dalam program pengembangan staf salah satu BUMN. I want to give some tips and tricks on nailing a job selection, but I need to get laid with one first, no?

Temen-temen yang baru lulus kuliah, pasti ngerasa seneng karena berhasil ngelewatin satu fase kehidupan. Sayangnya, rasa senang itu paling cuma bertahan beberapa hari, sebelum akhirnya ngerasa anxious karena harus masuk ke fase kehidupan selanjutnya: MENCARI NAFKAH!!

Postingan saya kali ini terbatas bagi para pencari kerja, lulusan universitas. Lalu, hal-hal apakah yang telah saya alami selama 7 bulan masa menganggur?

Setelah memutuskan untuk tidak melanjutkan kontrak kerja dengan suatu perusahaan, saya memutuskan untuk leyeh-leyeh di rumah sampai hari wisuda. Nggak mikirin apa-apa tentang masa depan, and decided to enjoy the moment. Setelah wisuda, baru kalang kabut dalam hati. Membenarkan segala excuse untuk menunda mencari pekerjaan karena hal itu ternyata cukup menakutkan ketika dihadapi sendirian. Waktu itu, excuse saya adalah, "Karena orang tua nyuruhnya nyari kerja setelah lebaran aja." which is in July. Awalnya sih nikmatin banget masa-masa bebas, eh begitu kerasa nggak punya duit, baru deh panik.

Satu hal yang saya sadari penting dilakukan sebelum memutuskan untuk pergi ke Job Fair adalah: Tentukan Bidang Pekerjaan Yang Kamu Inginkan. Ingat, alasan kita memilih jurusan semasa kuliah? Supaya gampang dapet kerjaan? Karena passion? Lama-kelamaan semuanya akan terasa utopis. Bullshit. Nah, sekarang, get on your own feet and decide what kind of job you want to have, so you won't whine over it forever. Hal ini penting sekali dilakukan supaya kita nggak sembarangan dalam nyebar-nyebar CV di setiap booth yang ada di Job Fair yang kita datangi.

Selanjutnya, jangan lupa untuk Mengecek Tingkat Bonafiditas Perusahaan. Apakah kamu merasa cukup bekerja sebagai karyawan biasa dalam sebuah perusahaan? Atau mau ikut program Management Trainee di perusahaan BUMN? Jangan asal sebar CV ya! Sebelum pergi ke Job Fair, pastikan kamu tahu perusahaan-perusahaan mana saja yang akan kamu lamar, dan cek kebenarannya melalui internet atau sumber lainnya. Ada lho, perusahaan-perusahaan yang pasang booth di Job Fair, tetapi ternyata perusahaan itu sebenernya nggak ada! Kamu dipanggil untuk ikut psikotes atau wawancara, padahal sebenarnya kamu akan digaet sebagai downline. Ya gitu deh, MLM. Saya pernah nyaris 'kena' dua kali. Untungnya, saya tiba-tiba merasa malas datang ke wawancaranya. Setelah saya cek di internet, ternyata perusahaannya nggak ada, dan Google popular search saya menunjukkan kalau perusahaan tersebut penipu. Modus-modusnya juga dijelaskan, kok.

Setelah yakin mau daftar di perusahaan mana dan posisi apa, pastikan kamu tahu Berapa Banyak Surat Lamaran Yang Akan Kamu Sebar. Setiap surat lamaran seharusnya unik (saya akan buat postingan tersendiri tentang ini) dan menunjukkan ketertarikan kamu terhadap perusahaan maupun posisi yang ingin kamu lamar. Nantinya, jika kamu cuma pengen nyebar 7 lamaran, ya sudah, 7 saja, nggak usah bikin 15. Jangan gampang berubah pendirian dan jadi ingin daftar di sembarang perusahaan, nanti kamu sendiri yang repot.

Biasanya tiap perusahaan punya standar berkas yang berbeda-beda. Sebaiknya kita sudah tahu dokumen-dokumen apa saja yang diminta oleh employer. Pastikan bahwa kamu melengkapi semuanya, ya!

Ketika sudah sampai di lokasi Job Fair, pastikan kamu Mengetahui Timeline Seleksi Penerimaan Perusahaan secara lengkap. Tanya aja ke penjaga booth-nya, kapan hasil seleksi administrasinya akan diumumkan, tahapan-tahapan seleksi apa saja yang harus kalian lalui, berapa lama proses seleksinya akan berjalan, dan jika bisa, minta nomor kontak seseorang yang nanti bisa kalian tanyai mengenai masalah rekrutmen tersebut. Jangan sampai lost contact, karena akan merugikan diri sendiri.

Begitu informasi sudah didapat, tanggal-tanggal sudah dicatat, bisa pulang! Atau nongkrong-nongkrong gegayaan dulu, hahahaha. The last but not least, coba didokumentasikan tuh segala-gala yang udah dilakuin, perusahaan mana aja yang udah disisipin lamaran kerja, tanggal berapa harus follow up, tanggal berapa pengumuman, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan job seeking. 

Kayaknya segitu dulu untuk Part I ini. Insyaallah dilanjutkan dengan Part II ya, dalam beberapa hari ke depan. Semoga pencarian kerjanya berhasil. Good luck!


Salam,


Suvi Tan Antara



Wednesday, 22 April 2015

About A Woman Who Has Dreams

Saya baru aja skroling-skroling ask.fm, dan tiba-tiba mendapat inspirasi untuk menulis. Bukan, tulisan ini dibuat bukan karena kemarin Hari Kartini. I should feel proud, of course. Tapi semakin umur saya bertambah, saya jadi berpikir kalau saya nggak butuh memperingati Hari Kartini. Kartini spesial, iya. She’s one of a kind. Hanya saja, secara personal, saya udah ngerasa I don’t need her anymore.

Bicara mengenai gender memang isu sensitif bagi sebagian orang. Ambil satu contoh, seorang perempuan yang karirnya lebih sukses dari suaminya. Mari kita definisikan sukses sebagai ‘memiliki posisi yang lebih prestisius’ maupun ‘gaji yang lebih besar’. Jadi, sebelum kita ngobrol lebih jauh, kita bisa menyamakan persepsi tentang kesuksesan.

Saya pikir, laki-laki modern nggak perlu khawatir kalau wanitanya punya penghasilan lebih besar darinya. A woman who earn much money, knows what she’s dealing with. Wanita seperti itu nggak mencari keamanan finansial dari suaminya. She can support herself, but it’s only because it is her dream. Saya ingin sekaligus meyakinkan laki-laki agar nggak merasa minder jika punya wanita seperti itu. She’s strong, but that doesn’t mean she does not need you.

Saya adalah wanita yang punya mimpi tinggi. I wanna be a writer, I wanna be a great banker. If I could be the next Sri Mulyani, why not? If I can be a best-selling author, why shouldn’t I? Kuncinya adalah agar kita bisa menentukan prioritas, mana yang kita pilih sebagai yang utama.

Di Indonesia, seorang wanita memang masih identik sebagai seorang istri. Menjadi seorang istri, apalagi seorang ibu, adalah mimpi yang amat besar dan mulia. Saya akan angkat topi kepada wanita yang berani mengambil keputusan itu. Being a wife, let alone a mother, is the biggest challenge a woman will ever have. Seorang laki-laki harus bersyukur jika wanitanya mau menjadi seorang full-time wife and mother. 

Saya masih menyayangkan anggapan masyarakat Indonesia bahwa menjadi seorang orang tua tunggal (karena bercerai maupun karena memutuskan untuk tidak menikah), maupun menjadi wanita karir, adalah tidak pantas. Kurang disenangi masyarakat. Setiap orang punya jalannya masing-masing, dan tidak ada orang lain yang berhak menentukan bahwa jalan yang kita ambil adalah benar ataupun salah. Semakin dewasa, kita akan paham norma dan nilai yang berlaku di masyarakat, dan kita punya cara sendiri untuk menyesuaikan diri dengan hal itu.

Saya bercita-cita mengangkat anak suatu hari nanti. Bukan berarti saya tidak ingin melahirkan. It’s just, when I see reality shows (mostly Oprah Winfrey’s Show) and movies which have orphan in them, a piece of my heart dies. Saya nggak bisa membayangkan hidup tanpa tahu siapa orang tua saya, dan bagaimana saya akan makan esok harinya. Mungkin itu alasan kenapa Tuhan menyuruh kita agar bersikap baik kepada anak yatim. Apalagi jika kita masih memiliki orang tua lengkap.

You can have all the money in the world, but you can never be able to buy a set of parents.

Apparently you can make efforts to have children even though you’re on your own.

Well, kayaknya tulisan saya mulai nggak nyambung.

Poin saya adalah, meskipun saya wanita, saya merasa memiliki hak untuk berbuat sesuatu selama hal itu tidak merugikan orang lain. Saya punya suara. 

Ketika membicarakan tentang kesetaraan gender, saya lihat masih banyak yang ribut.

“Katanya emansipasi wanita, terus kenapa masih ada ladies parking?”
“Katanya kesetaraan gender, terus kenapa cewek-cewek masih sering minta ladies first?”
“Katanya perempuan dan laki-laki berdiri sama tinggi, duduk sama rendah, kenapa gerbong kereta perempuan dipisah?”
I mean, of course Kartini did not have a clue about ladies parking and Commuter Line.

Maybe, instead, we need to focus on more important issues rather than those.
World domination maybe?

Friday, 17 April 2015

A Journey to the South Coast of Lampung

Some people are saving money so they can travel the world.
Some people are saving money only God knows why.
Some people are saving money to buy their future house (and home).
Some people are saving money to buy gadget.
Me? (mostly) I save my money so I can buy things I suddenly need (or want). I save money so I feel safe. But I make sure I enjoy spending money as it is hard earning it. I mean, what is the point of having much money but you do not enjoy it, right?

Since I have my own money, I told myself to spend it more on visiting interesting places. They don't have to be tourism places. I spent the week before by visiting my close friends in Palembang, and the following week, my On The Job Training partner invited me to visit some more beaches. Of course I would love to join her, since I myself is a more beach person than mountain person. We then decided to visit Sari Ringgung beach, in the south coast of Lampung. We invited one more person from office and he gladly accompanied us.

Sari Ringgung beach was awesome. Not many people had known about it yet, so the beach was still quite clean, neat, and not crowded. We had to pay 40k IDR in total for three people and one car. You can enjoy snorkeling, riding banana boat, or even kayaking in here. The place was hot, but since it was windy, it was okay.

A Glimpse of Sari Ringgung

Le Me and My OJT Partner
After having some coconut slurpies, we decided to drove away Sari Ringgung and just went around the south coast. The view was astonishing. Have you ever watched Japanese anime where the characters rode their bikes with sea-side view? My scenery looked exactly like that.


Seaside Scenery

Less than three meters only from the beach
What's good in the journey we went into is that there were no garbage (only a very few amount of it). It's so refreshing to see such scenery. I mean, after a five-day-work, it is justifiable for us to enjoy the rest of the week. Go make yourself happy. Eat your favorite food, buy things you want, go to any place you desire, visit somewhere new.

Don't be stingy of your money because you can earn it again. Spend the best of it and make yourself happy, your parents happy, your friends happy. Oh, and always remember to donate. Even though it's only an offer from your cellular provider, even though it's only a donation box in the mosque near your house.




I felt really happy that day! I could see the waves, I saw many happy faces from kids who played with the splashing sea water, parents who whined over their naughty children that run around. I felt happy watching other people do their activities, let alone natives. What's more comforting is that Sari Ringgung is still clean. I am so pissed with people who litter everywhere, anywhere they go. My close friends must have known this character of mine. I get mad over people that litter from their car windows. It's disgusting. I mean, all of us must be able to take care of our own shit. It's easy to do yet people are too lazy to get up and look for a trash bin. My bad habit is that I still prefer water bottle over tumblr.

Well at least, make sure you don't throw your rubbish at tourism places. We have the responsibility to keep it clean, so when you visit it again later, you won't see unpleasant things.

Love the country, love the nature, love ourselves.
Thank you for reading!

Tuesday, 7 April 2015

A Short Escape to Palembang

First of all, this is not a blog about travelling. So, I am sorry to disappoint you if you expect me to post many tourism places in Palembang, because I was not going there for that reason. The main reason I went there is because I wanted to meet my best friends, Terry and Neo!

I went to Palembang from Bandarjaya, Lampung, at night. My reason was because I wanted to sleep in the travel car. Not taking so long, I arrived after a very crazy six-hour-drive. Mau mati rasanya, abisnya supirnya ngebut banget. I thought supir bus Luragung yang di Pantura itu udah paling ekstrim, and he proved me wrong. Supir angkutan Lintas Sumatera lebih gila lagi!

Setelah nyampe Palembang emang rasanya agak mual, dan masuk angin. Kayaknya sekarang jadi kebiasaan deh, kalo ke luar kota pasti aku masuk angin. Jakarta-Bandung masuk angin, ke Cirebon masuk angin, pokoknya semuanya masuk angin. Untung nggak mabok.

Saat itu baru ketemu sama Neo doang sih, belum ketemu sama Terry. Seneng banget lho ketemu sama mereka, apalagi kan kita bertiga udah punya kesibukan masing-masing. Neo kerja di salah satu bank swasta di Palembang, sedangkan si Terry lagi koas. Awalnya sahabatan sejak kuliah, dan alhamdulillah masih sampe sekarang, hehehehe. I promised them bakalan nyamperin ke Palembang, dan baru keturutan sekarang. Therefore, my true intention was not to 'travel', but to meet them. I accomplished it happily. Bisa centang satu bucket list deh untuk tahun ini. Yay!

Pagi pertama di Palembang, I spent it by eating pempek! Selama 3 hari di sana makan pempek mulu, sampe enek dan perutnya agak perih karena cuko pempek yang pedes itu. Setelahnya, I asked Neo to accompany me to a mall soalnya mau beli beberapa kebutuhan yang nggak bisa ditemuin di Bandarjaya. Ha ha. Baru deh ketemu sama Terry!

Akhirnya bisa kumpul bocah bertigaaa. Having a sleepover di rumah Terry, masang koyo soalnya puegel banget. I couldn't sleep the night before so I was not feeling very fit, tapi kapan lagi di Palembang, ya nggak? Tadinya kita ngerencanain nonton film tapi udah penuh bioskopnya. Jadi pesen buat besok deh.

Hari Sabtu, 4 April 2015, Terry ada jadwal koas pagi, jadi kita harus berangkat abis subuh. I spent the noon by visiting Jembatan Ampera! Yah, nggak Jembatan Ampera banget sih, tapi nyari spot yang mendukung buat foto sama the infamous Ampera Bridge! I was dying to take a picture with it! Hahahaha. Norak ya, tapi emang pengen banget foto di sana.

Suvi with Jembatan Ampera
Setelahnya, we moved to Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, yang letaknya di depan J.Co, tempat kita foto-foto. Kalo gatau Sultan Mahmud Badaruddin II, beliau adalah bapak-bapak yang ada di uang 10 ribu-an. Coba liat deh. Tadinya mau masuk dan exploring banget museumnya, tapi ternyata pengunjungnya lagi sepi, cuma kita berdua. Jadi, kita berdua ketakutan. Baru setengah jalan udah keluar lagi haha. Mas-masnya sampe nanyain kenapa kita udah mau pulang aja padahal masuknya belum nyampe 10 menit.



Di deket masjid agung, ada sebuah monumen, namanya Monumen Perjuangan Rakyat. Sayangnya belum sempet googling tentang monumen itu, but since there is a very huge Burung Garuda, aku jadi kepengen banget foto di bawahnya. Jeng jeng jeng!!

Burung Garuda Besak
Ternyata di dalam monumen itu ada museumnya, dan pengunjungnya lumayan, jadi ga sepi-sepi amat. Museumnya sendiri ada 6 lantai, kemudian di atasnya ada semacam rooftop gitu, jadi kita bisa liht landscape kota Palembang. Sayangnya, Palembang itu PANAS BANGET. Nggak asik kalo di atas lama-lama.

Sorenya, setelah Terry kelar koas, kita nonton Fast and Furious 7! Lumayan sih filmnya, meskipun plotnya nggak sesuai harapan. The effect was not perfect but very good. Memanjakan mata lah.

Jangan lupa makan Pempek di Pempek Vico, ditemani dengan segelas es kacang merah.


Minggu pagi udah balik lagi ke Bandarjaya, and I found a Kampung Bali di daerah Tulang Bawang (kalo ga salah ingat), where there were so many pura untuk sembahyang, dan warna-warni banget! Sayangnya nggak sempat foto-foto. Hiks.

Udah ah, Dedek Cupi sudah lelah ngetiknya. Semoga bisa ke kota lain lagi. Terima kasih *** (nama perusahaan tempat Dedek Cupi bernaung), kalo bukan karena ***, belum tentu punya kesempatan ke sini!

Kiss kiss from Lampung!

Sunday, 29 March 2015

Living Far, Far, Far Away From Home

Foto diambil dari hasil Googling, tapi kebun sawitnya benar-benar terlihat seperti ini.


Well, this blog post comes up after I got an inspiration from one of my friends' simple question, "How's life going?" I asked him first, but never thought that the counter-attack would be really hard to answer, hehehe.

You know I always want to try to live in other cities, right? Away from Cirebon, I mean. And this company I got into, gives me the chance to do it whole-heartedly. Remember, be careful of what you wish for. Make sure you are ready to face the consequences.

I had never felt of missing home more than now, so far. Kangen banget sama rumah.

For the background of the story, jadi sekarang saya lagi dalam masa pendidikan untuk jadi staf salah satu perusahaan BUMN yang ada di Indonesia. Dalam pendidikannya, I need to go away from home untuk OJT (On the Job Training). OJT mengharuskan saya untuk belajar secara langsung bisnis yang dijalankan oleh perusahaan tempat saya bernaung.

Ketika diumumkan tempat OJTnya, well I was quite shocked. I am placed in Bandarjaya, Provinsi Lampung. Silakan cari di peta kalo ingin tahu Bandarjaya itu dimana. It is located around two-hour-car-drive from Bandarlampung. Go north. That was my first experience to go to Sumatera, and I am currently in a love-hate relationship with it.

For me, it's still hard to understand Sumatran people. Beda sih ya karakternya sama orang Jawa. I've been here for about a month, and I am still adapting. Meskipun udah cukup paham dan ngerti sih. Ada beberapa hal yang harus dimaklumi, misalnya kayak kondisi jalan yang nggak sebagus di Pulau Jawa, atau pengendara motor yang seenaknya aja ngambil tempat. Parah sih termasuknya. Suka seenaknya sendiri hhhhhhh.

The good of being away from home are that I can learn so so many things. I have plenty of time to go to its tourism places, I got the time to try the culinary, I have many new friends, and most importantly, I get to be independent. Since what I get from the company is enough to support my own life, I can do whatever I want.

Yang nggak enaknya yaaaaa saya jadi harus jauh sama rumah, orang tua, pacar, dan teman-teman. Pulang ke rumah jadi mahal banget. Saya yang biasanya pulang ke Cirebon dari Jakarta, cuma butuh paling mahal 400rb untuk pulang, now need to double it. Alhamdulillah masih deket pulangnya, cuma dari Lampung. Beberapa teman saya yang ditempatkan di Medan, ketika ingin pulang ke Bandung, pasti pengen menjerit liat harga tiket pesawat. Anak Padang yang ditempatin OJT di Bali, pulangnya juga mahal. Still, I need to see the bright side of my story, right? Belum lagi berita-berita tentang begal yang banyak banget di sini. Almost everyday malah, kayaknya. It's really dangerous for women to go out at night, especially alone. Nggak kayak Jakarta yang nggak pernah mati.

Tapi pengalaman yang berharga itu emang nggak bisa dibeli dengan uang sih. Banyak banget hal-hal yang pertama saya alami di sini. Pertama kali ngeliat kebun sawit, bahkan berkunjung ke PTPN (PT. Perkebunan Nusantara) yang terletak di Lampung. Memang sih, nggak sampai masuk ke dalam pabriknya, but it was quite an experience. Kemudian, ngerasain sendiri gap antara orang kota dan orang kampung (saya nggak bermaksud menghina di sini, soalnya saya sendiri orang kampung kok). The different level of education really does matter. And some of them just don't care. Talking to strangers about personal things pun kayaknya jadi hal yang biasa. One person even talked to me about her family issue. Waw.

So sorry for the messed up post. Gonna fix it soon. More stories are coming! Hope you still wait for me and read!

Saturday, 14 March 2015

To Be Financially Independent

Dalam sebuah wawancara kerja, saya pernah ditanya, "How do you see yourself in five years?" atau, "What is your vision?" 

Saya selalu menjawab seperti ini, "I want to become an independent woman who will be able to take care of herself while contributing to the company she works at. I want to make people happy having me around" yang kemudian saya breakdown satu-persatu. Tujuan pertama saya adalah menjadi seorang perempuan yang mampu mencukupi dirinya sendiri. Nggak minta uang sama orang tua lagi. Alhamdulillah, I successfully achieved that starting from December 24th, 2014. 

Ketika diterima bekerja dan akhirnya merasakan gaji pertama saya, tentu saya merasa senang. Ketika akhirnya bisa mencukupi diri sendiri, saya merasa amaaat lega karena sudah bisa berhenti minta sama Bapak-Mamak. Memang, saya belum bisa rutin kirim uang ke mereka, bahkan untuk menabung pun masih sulit. Hahahaha. I am a very spoiled person, dan boros banget. I spent most of my money going shopping, and eating food. Kadang nggak mikir makan apa, di mana, pokoknya kalo uangnya masih cukup, ayok berangkat!

Emang sih kelihatannya belagu ya. Kadang pun saya masih merasa bersalah menghabiskan uang bulanan itu. Udah punya penghasilan cukup kok malah nggak bisa nabung. I usually calm myself by saying that it is okay to spend my money no matter how much it is, because I earn it by myself. So, stop feeling guilty! Kadang rasanya nyesel, kok nggak bisa ngatur duit, tapi kadang juga bodo amat.

Yang saya rasakan setelah bisa menghidupi diri sendiri itu lega luar biasa. Enak. Nggak ngerasa gak enakan kalo minta uang ke orang tua, mau bokek pun ya ngerasa susah sendiri, nggak nyusahin orang lain. Pusing ya pusing sendiri, nggak bikin pusing orang lain. Punya hutang pun ya nggak usah bawa-bawa orang tua lagi. Segalanya diatur sendiri.

Then I have a new definition of financially independent: A condition where you do not need to think twice before entering a restaurant. Definisi Anda mungkin bisa berbeda ya, itu kan hanya pengertian saya berdasarkan apa yang saya alami selama ini. Saya kadang merasa kesal ketika teman-teman ngajakin main tapi ketika saya ingin bilang "Yuk", eh dompet saya malah menjerit-jerit. Nggak asyik banget pokoknya.

Another thing is that my parents can be financially free from taking care of me. Mereka akhirnya bisa fokus untuk membiayai adik saya yang tahun ini akan masuk SMP. Mereka akhirnya bisa fokus membiayai adik saya ikut les Bahasa Inggris, tanpa perlu pusing mikirin untuk ngirimin Tara uang bulanan.


They know, I can take care of myself. 




Tanjung Karang, Lampung.

Tuesday, 25 November 2014

Writing Challenge: My Biggest Fear Before 2014 Ends

Well, so my friend Nita suddenly came up with a very exciting idea: writing challenge! Jadi intinya Nita akan kasih saya satu topik untuk ditulis, saya kasih Nita satu topik untuk ditulis, dan kita berdua akan upload tulisan itu di hari yang sama. 
Topik pertama yang saya dapat sangat mencengangkan: My Biggest Fear Before 2014 Ends. Jujur saja, saya harus mikir keras dan lumayan lama sebelum nentuin mau nulis apa di sini.
Ketakutan terbesar saya tahun ini mungkin kalo saya belum tahu apa yang bakalan saya lakukan di tahun 2015. Saya kerja di mana tahun depan? Sudah bisa mandiri secara finansialkah saya tahun depan? Bisa ngejalanin LDR nggak? Sia-siakah apa yang saya lakukan selama ini?
Ketakutan terbesar saya tahun ini mungkin adalah jika saya menutup tahun ini dan menyadari kalau saya kurang produktif. Saya takut akan kesia-siaan. Saya takut apabila apa yang saya lakukan selama setahun belakangan ternyata nggak ada artinya, hanya buang-buang waktu.
……
Agak susah nulis ini, soalnya saya harus mikirin ketakutan saya dan rasanya nggak nyaman. Ketika tulisan ini selesai, mungkin saya nggak akan nulis secara eksplisit apa ketakutan terbesar saya. Soalnya….Yah… Siapa sih yang mau mikirin sesuatu yang menakutkan?
Kita terlalu terbiasa mengenyahkan pikiran-pikiran nggak enak, menghindari konflik, lari dari masalah. Pokoknya selama masih bisa ditunda, ya jauhi. Kalo udah mendesak banget, baru hadapi.
Sayangnya, meskipun kita tahu bahwa hal itu salah, kita tetap melakukannya. Menghadapi ketakutan memang butuh keberanian besar. Yaiyalah, menurut kalian aja gimana?
Topik pertama ini sebenernya bikin saya agak males nulis. Bikin saya mikir, apa yang udah saya perbuat selama ini supaya saya nggak perlu mengawali 2015 dengan absurd? Saya males mikirin hal itu karena bikin saya khawatir. Saya takut kalo apa yang saya harapkan nggak terkabul, saya takut kalo segala perjuangan saya gagal.
Pernah mikir nggak sih, kenapa ya, meskipun kita tahu bahwa kegagalan itu mungkin terjadi, meskipun kita selalu menyiapkan mental untuk menerima kegagalan, tapi rasanya tetep sakit? Kegagalan bikin kita takut buat nyoba hal baru. Hal yang nggak tau bakalan bawa kita ke mana.
Ah, saya udah makin ngawur nih nulisnya. Maklum, udah malem dan saya udah ngantuk. Makasih ya yang udah nyempetin waktu buat baca. And… Nita, be prepared for your next theme!!

Regards, Suvi Tan Antara
Cirebon, 25 November 2014 - 11.41pm