Thursday, 26 December 2013

Ngurusin Cara Berpakaian Orang

Saya baru aja ngetwit mau komentar tentang cara berpakaian orang, terus mikir, "Ah kayaknya bakalan panjang deh, bikin postingan blog aja ah." So Here I am running to this website and start writing. 

Jadi... Pernah buka Facebook terus nemu gambar/artikel ini di Newsfeed?

Hijabers

Link itu redirect ke Kaskus, dan isinya tentang pendapat seseorang yang bukan Muslim tentang Muslimah yang pake kerudung. Dia sih menyampaikan keheranannya dan ketidaksukaannya terhadap cewek-cewek berkerudung yang terlalu fashionable, soalnya menurut dia itu jadi nggak Islami lagi kesannya.

Saya setuju sama pendapat dia di situ, tapi bukan itu tujuan saya ngeblog. Oh, and I don't write this because the author is non-Muslim.

Saya jadi bertanya-tanya, sejak kapan kita jadi begitu ribet ngurusin cara berpakaian orang, padahal dia sudah berpakaian sopan? Okelah, orang Indonesia emang agak-agak sensi sama orang-orang yang berpakaian terbuka, ngasi liat banyak kulit, tapi kalo menurut saya komentar-komentar terhadap cewek berjilbab kayak gini kurang tepat sasaran.

And believe me, I used to give such comments, too.

Indonesia adalah satu negeri yang (katanya) menganut adat ketimuran. Kesopanan, terutama kepada yang lebih tua, dijunjung tinggi di sini. Masih banyak hal yang tabu buat diomongin dan dilakuin di negeri ini. Kalo menurut nilai dan norma yang berlaku di sini nggak cocok, ya berarti apa yang kita lakuin itu salah. Ngelawan orang tua, padahal orang tuanya ngajarin hal yang nggak bener, ya bisa aja dianggap salah karena kita membangkang.

Berpakaian pun suka salah di Indonesia tuh. Pake pakaian yang terlalu terbuka (dengan segala batasan-batasannya yang absurd), salah. Pakai pakaian yang menutup kulit tapi nyeplak badan, salah. Pakai pakaian yang menutupi seluruh badan pun tetep dianggap salah, dibilang nggak sesuai agama. Menurut saya, kalo udah menyangkut masalah agama, mending diomongin baik-baik ke orangnya langsung, diajak ke jalan yang benar, bukan dibikinin artikel aneh-aneh.

Temen-temen saya juga sering ngingetin saya kok, dan nggak pake nyindir-nyindir nggak penting.

Kalo saya pikir-pikir lagi, saya juga salah karena sempet ikutan ngomentarin-ngomentarin cara berpakaian hijabers yang modelnya bisa macem-macem itu. Memang ada yang masih belum bisa sepenuhnya sesuai dengan ajaran agama Islam, tapi apakah perubahan mereka yang akhirnya memutuskan untuk mengenakan pakaian yang lebih tertutup juga patut kita cemooh? Nggak kan? Saya juga nggak selalu bisa ngikutin apa yang agama saya ajarkan, tapi bukan berarti saya sepenuhnya cuek sama hal itu. Kita harus belajar lagi untuk lebih menghargai proses ketimbang tidak sabaran menagih hasil.

Emangnya kalian pikir belajar pake jilbab itu gampang?

Memang ada Muslimah yang bisa langsung JGERRR dapet hidayah terus besoknya dia langsung bisa pake jilbab yang sesuai ajaran agama Islam, tapi nggak semua cewek kayak gitu. Ada yang belajar pake jilbab di sekolah dulu, di rumah atau ketika jalan-jalan belum pake. Masih juga dikomentarin negatif sama orang, dikatain pake jilbab setengah-setengah. Kita kan nggak tau kalo dia lagi belajar atau gimana.

We seriously need to learn to not judge people from an instant look.

Saya hanya menyayangkan mereka-mereka yang sempet berkerudung, kemudian dilepas. 

Saya ngaku, bahkan saya yang udah berkerudung kurang lebih lima tahun, masih suka kepengen lepas, tapi saya tahan-tahan. Alasan pertama ya karena malu. Malu udah pake kerudung terus dilepas lagi. I'm not a perfect person but at least I try to be better. Saya juga banyak ngelakuin kesalahan but I somehow always find something to learn.

Mungkin begitu cara Allah sayang sama saya, ngingetin saya akan sesuatu. Misalnya ketika saya mencemooh orang lain, beberapa waktu kemudian Allah bakalan bikin saya terjebak dalam situasi yang dulunya saya cemooh. Rasanya emang kayak ngejilat ludah sendiri, but hey, that's how I learn to not judging. I'm not done learning, but I'm on my way.
Daripada terjebak selamanya mencemooh orang?

The last but not least, let's learn again and again and again to put ourselves on someone else's shoes. Try looking from other people's glasses. Karena dengan cara demikian, kita akan belajar untuk lebih menghargai. Orang Indonesia memang selalu bisa menemukan hikmah dalam setiap musibah, tapi jangan di setiap hal. However, I think we can take positive things in this case. Let's learn together :)


Salam,

Suvi Tan Antara :)

Monday, 23 December 2013

Belajar Kehidupan dari Komik One Piece

One-Piece-Wallpaper
Mugiwara Pirates. Kaptennya namanya Monkey D. Luffy, itu yang pake topi jerami


Siapa bilang ilmu-ilmu kehidupan cuma bisa didapet di buku-buku sekolah, biografi tokoh terkenal, atau koran? Saya sendiri nemuin banyak pelajaran tentang hidup dari komik keluaran Jepang yang satu ini: One Piece.

One Piece ini udah terbit sejak tahun 1997, saya tahu kelas empat SD (sekitar tahun 2000), tapi baru baca pas kelas satu SMA (tahun 2007). Saya jatuh cinta sama banyak hal dari komik ciptaan Eichiiro Oda ini. Saya jatuh cinta sama karakter-karakternya, saya jatuh cinta sama alur ceritanya, saya jatuh cinta sama gambarnya, saya jatuh cinta sama hampir semua hal yang ada di komik ini!

Banyak banget pelajaran kehidupan yang bisa diambil dari komik ini loh, menurut saya. Di antaranya:
  1. Berjuang dan berkorban demi hal yang berharga. Di sini, Luffy dan kawan-kawan nggak peduli dengan cara apapun, mereka bakalan ikut berjuang demi keadilan. Loh? Mereka kan bajak laut? Ya, keadilan di sini adalah keadilan menurut mereka. Eichiiro Oda juga bikin ceritanya nggak ngasal sih. Di komik One Piece ini, tokoh antagonisnya macam-macam. Pihak pemerintah dunia pun ada yang suka menindas. Nah, Mugiwara Pirates ini menentang hal semacam itu. Jadi ceritanya mereka adalah orang baik, meskipun mereka adalah bajak laut (yang seharusnya jadi orang jahatnya). Kalau menurut mereka, mereka udah ngelakuin hal yang benar, mereka nggak akan ragu-ragu lagi buat ngebantu orang lain. Seringnya, mereka ngebantuin orang yang bahkan mereka nggak kenal. Jadi orang baik emang nggak perlu alasan.
  2. Teman-teman adalah harta karun. Luffy digambarkan sebagai kapten yang hanya mau punya 10 kru bajak laut. Sejauh ini udah ada 8 orang, berarti butuh 2 orang lagi buat menuhin ambisinya punya 10 kru. Buat saya, ini kayak ngingetin bahwa berteman itu bukan hanya masalah kuantitas, tapi juga kualitas. Luffy nggak ingin kayak kebanyakan bajak laut yang lain, yang punya kapal dan kru yang banyak, tapi dia nggak mengenal semuanya. Luffy hanya punya 8 kru sampe saat ini, tapi dia selalu berjanji buat ngelindungin mereka semua. Semua kru bajak laut topi jerami pun setia banget sama Luffy. Buktinya? Luffy orangnya egois, keras kepala, dan suka punya permintaan yang aneh-aneh, tapi semuanya dikabulin. Semua sayang Luffy.
  3. Hidup ini nggak selamanya tentang kemenangan. Meskipun Mugiwara Pirates (Bajak Laut Topi Jerami) itu tokoh utama di komik ini, nggak berarti mereka menang terus. Ada satu kisah petualangan di mana Luffy kalah ngelawan orang-orang Angkatan Laut, dan dia harus terpisah dari semua semua semua semua temen-temennya. Luffy sendiri malah terdampar di pulau yang nggak dia kenal sebelumnya. Setelah itu, Luffy malah kehilangan kakak angkatnya, temen main dia dari kecil, karena dibunuh Admiral Angkatan Laut. Luffy sempet down banget dan nggak semangat buat ngelanjutin hidupnya. Kemudian dia diingetin kalo dia masih punya 'keluarga'. Dia masih punya temen-temennya, kru kapalnya. Abis itu dia bangkit lagi deh!
  4. If you have a goal, focus on it and work hard to reach it! Luffy cuma punya satu tujuan dari awal. Dari chapter satu sampe chapter tujuh ratus tiga puluh dua komiknya, Luffy cuma kepengen jadi RAJA BAJAK LAUT. Udah, nggak ada yang lain. Masih banyak bajak laut-bajak laut sama Angkatan Laut yang lebih kuat dari dia, tapi tujuan Luffy nggak pernah berubah. Meskipun dia sering dikalahin orang lain, dia nggak pernah menyerah! 
  5. Hidup bebas itu impian setiap orang. Salah satu alasan Luffy kepengen jadi bajak laut adalah karena bajak laut hidupnya bebas, nggak terkekang sama peraturan. Jadi bajak laut emang jadi kriminal karena pada dasarnya dia nggak taat peraturan. Tapi, hal ini nggak bikin Luffy jadi pembunuh atau penindas. Dia masih punya batasan-batasan di hidupnya. Luffy nggak pernah membunuh lawan-lawan yang pernah dia kalahin. Mungkin menurut dia, tetep hidup setelah dikalahin itu bakalan ngasih pelajaran lebih daripada kematian. Eh, gatau ding, asumsi aja hahaha.
Masih banyak hal yang bisa dipelajari dari komik One Piece ini loh, coba deh baca komiknya. Menurut saya sih ceritanya masih seru buanget, nggak kayak komik-komik yang lain. Komik ini umurnya udah 16 tahun, dan masih belum tahu kapan tamatnya. Saya berharap, komik ini bakalan seru terus, jadi bacanya nggak bosen. Animenya sendiri udah sampe episode 626 (banyak ya?) tapi masih bagus aja.

Semoga Eichiiro Oda nggak mati sampai komik ini tamat. Amiiin.

Saturday, 21 December 2013

Akhir Masa Kuliah

Kemarin, waktu lagi bimbingan, dosen saya bilang, "Kamu sidang paling telat tanggal 9 yah!" Kemudian saya menyahut, "Tanggal 9 Januari, Sir?" yang kemudian dijawab, "Yaiyalah!"

Saya menyambutnya dengan menelan ludah berkali-kali. Saya sadar, sih. Seberapa pun lamanya saya menunda, pada akhirnya saya harus menghadapi ujian terakhir saya sebagai calon sarjana ini:

SIDANG SKRIPSI.

Saya deg-degan banget mau nyambut datangnya perintah untuk sidang skripsi itu. Saya akui, seharusnya saya bisa menyelesaikan skripsi saya ini akhir bulan Oktober kemarin, namun saya takut. Saya belum siap menghadapi sidang. Saya belum merasa menguasai materi-materi yang akan saya sampaikan. Tapi memang benar apa kata orang:

"Kalau kita nunggu siap dalam melakukan sesuatu, kita nggak akan pernah siap. Manusia itu nggak pernah siap. Kita akan selalu dipaksa untuk siap."

Kalau dosen saya nggak mengeluarkan ultimatum seperti itu, belum tentu saya menyiapkan diri saya dengan intensif mulai dari hari ini. Saya harus berusaha.

Saya memang nggak terlalu dekat dengan dosen pembimbing saya, tapi saya senang dialah yang membimbing saya menyusun skripsi ini. Beliau mampu memotivasi saya setiap kali kami bimbingan, meskipun seringnya saya harus menunggu beliau hingga berjam-jam ketika kami ada jadwal bimbingan. Beliau menyebut saya salah satu mahasiswanya yang militan. Padahal menurut saya, saya masih bermalas-malasan dalam pengerjaan skripsi ini. Tapi memang sih, saya selalu berusaha mengabari beliau bagaimana perkembangan pengerjaan skripsi saya. Meskipun saya tidak punya kemajuan, saya akan memberitahu beliau. Because I think that's what advisor is for. Untuk membimbing saya. Maka dari itu, saya nggak boleh ragu untuk mengungkapkan keraguan saya.

I don't know what to write anymore. Wish me luck, yah!

Sunday, 8 December 2013

Menaruh Harapan Pada Pemimpin Daerah

Memang banyak pemimpin Indonesia yang nggak bener. Anggota DPR pada korupsi, plesiran jauh-jauh ke luar negeri buat sesuatu yang nggak signifikan, bikin peraturan yang kurang penting, sampe nonton video porno waktu lagi sidang. Lha kok yo ndak mikir sama sekali ya. Mbok kalo mau nonton bokep ya di rumah aja, kenapa harus di ruang sidang? Capernya nggak lucu sama sekali, Pak.

Udah susah-susah jadi pejabat, kekuasaannya malah dipake buat diri sendiri. Memperkaya diri, keluarga, maupun partai (sendiri). Nggak tau deh kapan mikirin rakyatnya. Rakyatnya sendiri serba salah. Mau dimaklumi, makin merajalela. Marah-marah, tempat aspirasinya yang ngelakuin pelanggaran. Akhirnya banyak rakyat yang malah antipati sama pemimpinnya sendiri. Lha wong udah dipilih untuk menyejahterakan rakyat, malah nggak dilakuin. Kan kesel. Ibaratnya udah ditembak, eh pas bilang iya mau pacaran, eh abis itu ternyata si dia nggak sebaik pas pedekate. Masa pedekate emang paling indah.

Udah yuk fokus lagi ke hal yang seharusnya.

Tapi akhir-akhir ini yang lagi populer adalah pemimpin daerah yang bener-bener berpihak pada rakyat kok. Saya punya dua contoh yang hasil kerjanya 'kelihatan'. Kenapa 'kelihatan'-nya pake tanda kutip? Karena memang program mereka nggak bisa dinikmati dalam waktu yang instan. Butuh dukungan dan partisipasi warga yang nggak sedikit, dan penyelesaian programnya butuh waktu yang nggak sebentar. Jadi emang kudu sabar sebelum hasilnya bener-bener keliatan banget. By the way, dua contoh pemimpin itu adalah pasangan Jokowi-Ahok dan Ridwan Kamil. Ini nih orang-orangnya:

Ridwan Kamil, Walikota Bandung

ki-ka: Jokowi - Ahok, Gubernur & Wakil Gubernur DKI Jakarta
Ridwan Kamil itu walikota Bandung. Beliau aktif banget di Twitter buat berinteraksi sama warga Bandung. Saya sendiri nggak tau siapa itu Ridwan Kamil sebelum beliau jadi walikota Bandung. Sempet nggak peduli juga soalnya kan walikota Bandung sebelumnya keseret kasus korupsi gitu. Kemudian salah satu temen saya ngomong-ngomongin Ridwan Kamil gitu katanya beliau kocak di Twitter. Saya yang penasaran pun buka Twitternya Ridwan Kamil di sini. Interaksi beliau bagus banget. Twitternya dikelola sendiri sama beliau, nggak pake admin. Ridwan Kamil secara rutin mengkampanyekan program-program yang beliau punya di Twitter, dan mendokumentasikannya. Ada beberapa program yang saya suka. Pemindahan PKL, penghijauan kota, proyek biopori, wifi Bandung Juara, Damri gratis untuk pelajar berseragam tiap hari Senin, tim gorong-gorong Bandung Juara, kemudian penertiban pengemis dan topeng monyet di jalan-jalan di kota Bandung, dan masih banyak lagi. Bahkan siapapun bisa berkontribusi buat jadi relawan. Kalo mau daftar jadi relawannya, atau sekedar tahu lebih dalam tentang Ridwan Kamil (dan wakilnya, Oded) bisa mampir ke sini.

Selanjutnya ada Jokowi-Ahok. Awalnya sempet pesimis juga sama pasangan ini. Khawatir mereka bakalan disetir sama partai tempat mereka berasal, kemudian, seperti pemimpin yang lainnya, bakalan lebih mikirin kesejahteraan partai daripada rakyatnya. Saya dulu lebih penasaran sama Faisal Basri sih, tapi yang kepilih Jokowi-Ahok. Yaudah deh.

Meskipun bukan orang Jakarta dan nggak tinggal di sana, kurang lebih saya ngikutin juga perkembangan beritanya dua orang ini. Wajar dong, DKI Jakarta kan ibukota Indonesia, jadi mau nggak mau, suka nggak suka, pasti harus ngikutin beritanya karena kurang lebih mencerminkan Indonesia. 

Surprisingly, kerjanya bagus. Pemberitaannya kebanyakan positif. Gebrakan-gebrakan yang dilontarkan Jokowi-Ahok ini berani menentang arus kepemimpinan yang lagi populer. Jokowi dengan sikap rendah hatinya bisa merangkul warga Jakarta di pinggiran. Ahok yang kayak nggak takut sama apapun berani ngelakuin sesuatu yang radikal. Tapi justru sikap inilah yang bikin rakyat Jakarta nyimpen harapan di atas pundak mereka berdua. Harapan kalo Jakarta akan jadi kota yang lebih baik. Perjalanan masih panjang, tapi bukan berarti nggak mungkin.

Jokowi-Ahok juga nggak segan-segan ngasi liat slip gaji mereka. Transparansinya bagus. Ahok, di situs pribadinya bahkan mempublikasikan slip gaji, pemakaian APBD, anggaran daerah, dll dll. Ini situs pribadinya Ahok.

Dua contoh pemimpin daerah ini rasanya udah kayak Oasis di tengah padang pasir dunia politik Indonesia. Walikota Surabaya, Tri Rismaharini juga katanya kerjanya bagus, tapi saya nggak begitu mengikuti berita-beritanya. Jadi saya nggak ulas di sini. Sebenernya lucu ya, lucu ironis gitu. Pemimpin yang baik seperti mereka, justru yang langka. Justru yang tidak populer.

Semoga ke depannya pemimpin yang baik seperti mereka lah yang jadi populer. Semoga pemimpin-pemimpin busuk yang akan terkikis sampai kemudian dilupakan karena nggak penting. 

Saya jadi semangat lagi menyambut 2014. Semoga di pemilu pertama saya nanti, saya bakalan bisa milih pemimpin yang emang baik. Yang janjinya bisa dibuktikan. Yang berani menentang ketidakadilan demi tercapainya kesejahteraan rakyat.

ciebangetgasih? Huahaha

Ya pokoknya gitu lah. Semoga ini tandanya negeri ini akan kembali ke jalan yang benar. Sebagai warga negara Indonesia, kita punya kewajiban untuk peduli. Ini juga mumpung saya lagi inget, lagi bener hihiihi. Semangat!

Tuesday, 3 December 2013

Menulis Tentang Bapak - Part 1

Kali ini saya ingin menulis tentang Bapak. 

Bapak saya adalah seorang laki-laki yang lahir di Tulungagung, menjadi piatu ketika beliau duduk di kelas enam SD (saya nggak pernah ketemu nenek dari pihak Bapak), sering dimarahi kakek dan bude-bude saya karena sering nyomot lauk pauk, padahal mereka hidup jauh dari cukup, hanya mampu sekolah sampai SMA karena nggak punya biaya untuk ngelanjutin ke bangku kuliah. Bapak saya orangnya kocak, pelit, dan nyebelin. Tapi saya sayang banget sama Bapak.

Saya pernah nulis (tapi lupa di mana), bilang kalo di keluarga saya, kami (Saya, Mamak, Bapak, dan Panca) nggak terbiasa buat ngungkapin rasa sayang. Kami tahu kami saling menyayangi. Dan itu cukup.

Sejauh yang saya ingat, Bapak adalah seorang penjahit. Mamak pernah bilang kalo dulu Bapak sering gonta-ganti kerjaan sebelum mutusin buat buka tempat jahit sama Mamak. Kalo denger cerita-cerita Mamak tentang Bapak, saya suka kepengen nangis. Betapa di balik diamnya Bapak, Bapak punya banyak cerita, yang nggak diceritain. Bahkan sampai saya umur 21 tahun, saya belum pernah diceritain kisah Bapak ketemu sama Mamak, pacarannya gimana, ngelamarnya, dll. Cuma satu foto pernikahan mereka yang saya pernah lihat. Yang lebih lampau dari itu, tidak pernah. 

Mamak pernah cerita dulu pernah kabur dari Tulungagung ke Bali ketika umur saya masih sekitar 2 bulan, terus disusul sama Bapak. Kayaknya itu hal paling romantis yang pernah saya denger tentangnya. Hehehe.

Waktu saya belum masuk TK, pas bangun pagi dan nggak ada Mamak, saya pasti tanya sama Bapak.

"Pak, Mamak mana?"

"Mamak lagi di tempat Mak Puk. Bantu-bantu masak soto buat dagang."

Dan saya akan merengek minta ketemu Mamak, kemudian dibonceng Bapak naik sepeda dari Jalan Nusakambangan, Denpasar, sampai ke warung bude saya di dekat Pasar Badung. Lumayan jaraknya, tapi saya nggak inget persis.

Begitu ketemu Mamak, saya akan langsung minta pulang.

Bapak adalah pengantar jemput saya ke dan dari sekolah sejak saya TK hingga saya SMA. Ketika saya minta jemput, Bapak jarang sekali telat. Kalau saya pulang sekolah jam satu siang, Bapak akan sudah ada di sekolah jam 12.45, menunggu saya pulang.

Setiap kali saya punya PR dari sekolah, Bapak akan nungguin saya ngerjain PR, ngomelin saya kalo saya nanya jawaban ke Bapak tanpa baca bukunya dulu.

"Baca dulu buku pelajarannya, kalo nggak ada, baru tanya sama Bapak. Jangan langsung tanya sebelum cari tahu dulu!" katanya.

Kadang-kadang saya akan kesel karena Bapak nggak mau kasitau jawaban PR saya. Kadang-kadang saya akan langsung nurut buka buku, lalu nyengar-nyengir ngeliatin Bapak karena jawabannya ketemu.

Dari TK sampe SD, saya merasa Bapak adalah orang paling pintar sedunia karena selalu punya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya. Mamak juga bilang, "Bapakmu itu sebenernya pinter, Ra. Cuma nggak punya duit aja buat sekolah lagi." Yang selalu bikin saya ingin nangis ngedengernya. Sayapun sadar, nggak semua orang pintar bisa sekolah tinggi-tinggi.

Saya dekat dengan matematika sejak saya kecil. Ketika temen-temen belajar tambah-tambahan, Bapak udah ngajarin ngitung puluhan. Di sekolah belajar ngitung puluhan, Bapak udah ngajarin ratusan dan ribuan. Ketika saya udah tau trik tambah-kurang, di sekolah belajar itu, Bapak udah ngajarin perkalian dan pembagian. Semua soalnya dia bikin sendiri, khusus buat saya. Kelas tiga SD saya minta les sempoa, dibolehin. Satu-satunya les yang saya ikutin selama SD hingga SMP.

Masuk SMP, Bapak udah mulai nggak bisa bantuin saya bikin PR. Saya sempet ngerasa kecewa karena nggak bisa sering-sering belajar ditemenin Bapak lagi. Dulu Bapak sama Mamak selalu ngecekin nilai di sekolah, begitu SMP udah mulai nggak. Butuh waktu lama bagi saya untuk nerima kalo Bapak nggak sepintar yang saya bayangkan. Bapak pernah bilang,

"Mulai sekarang kamu harus belajar ngerjain PR sendiri. Bapak udah lupa pelajaran-pelajaran SMP. Bapak udah nggak bisa bantuin kamu kayak dulu lagi."

Saya bisa ngeliat permintaan maaf Bapak di matanya.

***

Panca lahir ketika saya kelas lima SD. Bapak seneng banget main sama Panca, sampai sekarang. Mungkin karena Panca laki-laki ya, jagoan. Bapak seneng di rumah ada temennya sesama laki-laki, jadi mereka deket, meskipun namanya juga anak, pasti lebih deket sama ibunya. Panca selalu bisa have fun ketika sama Bapak. Bapak orangnya lucu, kocak, jarang marah. 

Kalau saya dimarahin Mamak, Bapak selalu jadi tempat pelarian. Mamak kalau marah suka ngambek; nggak masak, nggak mau ngasih uang jajan, jadi saya harus minta ke Bapak. Bapak jarang banget nanya kenapa Mamak marah. Bapak cuma nanya kenapa minta duit, untuk apa, kemudian ngasih duitnya. Hal ini berlaku dari dulu banget.....sampe sekarang.

(to be continued)

Sunday, 1 December 2013

Pengamen Banci

Kali ini saya pengen ngomongin pengamen. Lebih spesifiknya, pengamen banci.

Saya emang nggak pernah ngamen, apalagi jadi pengamen banci, jadi saya nggak tau gimana sebenernya rasa jadi pengamen banci.

Baru beberapa saat yang lalu, saya dan temen-temen saya makan di angkringan di deket Masjid Salman ITB. Angkringan ini cukup terkenal dan selalu rame (paling nggak, dua kali saya ke sana, rame terus). Makannya ngeleseh gitu, dan suasananya enak, terasa akrab. 

Tapi bukan itu topik tulisan saya malem ini.

Tempat makan pinggir jalan kayak gini, pastinya nggak luput dari kunjungan pengamen-pengamen, termasuk pengamen banci. Sepengetahuan saya, pengamen-pengamen di tempat makan gini ya pengamen beneran, bukan yang cuma sok-sokan ngamen. Nyanyinya bagus, jadi ngasi duitnya juga ikhlas.

Kemudian dateng nih pengamen banci yang komplit sama dandanannya. Pake tank top baby blue gitu, wig panjang, sama kayanya pake kain pantai yang disarungin gitu, jadi sebelah kakinya keliatan sampe paha (kebayang kan maksudnya gimana?) Setelah saya perhatiin, ternyata itu pengamen yang udah beberapa kali kita (saya dan temen-temen) temui kalo lagi nongkrong. Kalo dia inget pernah ketemu kita juga, kayaknya bisa dibilang udah cs-an deh hehe.

Kemudian pengamen ini mulai nyanyi, sambil sesekali ngajakin ngobrol, ngegodain temen saya yang ganteng (yang udah keringet dingin sejak pengamen banci ini nongol), ngelempar jokes-jokes garing, dan hal-hal yang biasa dilakuin pengamen banci.

Karena udah cs-an sama pengamen banci ini, kita jadi lebih ikhlas ngasi duitnya. Ngobrolnya udah nyambung (dikit), interaksi udah lebih enak, dan kita lebih bisa menghargai dia. Salah satu temen saya sendiri ngaku kalo nggak setakut dulu lagi, ketemu sama pengamen banci yang ini.

Akhirnya pengamen banci ini pindah ke circle tongkrongan yang lain, sebelah kita. Temen saya ada yang nyeletuk, "Wah, itu udah ngasi uang duluan!" Kemudian saya nengok. Eh, ternyata bener apa yang dibilang temen saya. Pengamen banci itu akhirnya pergi ngambil duitnya bahkan sebelum dia sempet nyanyi.

Tapi, sebelum dia pergi dari satu circle, pengamen banci ini selalu bilang, "Terima kasih ya, semoga sehat selalu." Termasuk ke circle saya dan tetangga sebelah ini.

Kemudian saya ngebayangin gimana kalo saya ada di posisi dia, pengamen banci ini (bukan berarti saya pengen jadi pengamen). Gimana rasanya berpura-pura menjadi perempuan, saat saya sebenernya laki-laki. Atau sebaliknya. Gimana rasanya menjadi diri sendiri dengan jadi perempuan, ketika sebenernya saya berpura-pura dengan kelaki-lakian saya. Pasti rasanya membingungkan. Saya harus ngamen untuk menunjukkan identitas diri saya yang sebenernya. Merasakan penolakan bahkan sebelum saya ngelakuin pekerjaan saya, hanya karena mereka takut dideketin banci.

Saya kadang-kadang pengen tahu, pengamen-pengamen banci ini pas pulang ke rumah dan ngehapus lapisan make-up yang dia pake, apa yang dia rasain ya? Apa yang ada di pikiran dia pas ngeliat mukanya di cermin, berubah dari perempuan jadi laki-laki lagi?

Ada yang mengatakan, ketika kita melakukan hubungan intim, kita tidak akan merasa malu saat saling melucuti pakaian. Kita harusnya merasa malu saat mengenakannya lagi.

Kelihatannya, menjadi banci sama halnya dengan berhubungan seksual.

Pantesan ada yang bilang, "No one helps you once you're fucked up. That's why after sex, you help yourself wearing your clothes."

Thursday, 28 November 2013

Udah Siap Nikah?


What an interesting topic to arise, no? Liat aja di social media sekarang, banyaaaaak banget orang (especially cewek-cewek) yang pengen nikah muda, yang pengen nikah cepet. I personally, of course, am one of them. Tapi ada banyak hal yang bikin saya nimbang-nimbang lagi buat nikah cepet.


  1. The readiness of me and.....my future husband. I mean whether I'm TRULY ready or not.
  2. The fund.
  3. The responsibilities.
  4. The dreams I (still) want to reach.
Emang ada sih beberapa temen yang sekarangnya udah nikah. Yes, at my age, 21. And marriage looks so tempting. Kelihatannya pada happy-happy banget, seneng, hidupnya tentram, dst. Kebanyakan sih dari pihak ceweknya yang ngomong gitu. Kalo dari cowoknya ya nggak tau lah ya, since they're not very verbal creatures, too. 

Cuman ada juga beberapa newly-wed-female yang kesannya jadi sok tahu sama pernikahan since they're already in it. Jadi sok-sok ngajarin, ngasi nasehat tentang kehidupan percintaan, intinya sok tahu lah. And that's what disgusts me so much about them. You know, sometimes it's not what they say, but about how they say it.

I got into so many foolishness before I am able to think what I think right now. I believe it's okay. It doesn't matter how many mistakes you made in the past, as long as you can use it properly to reach your betterment day by day.

Well, I was very very naive when I thought of marriage. As a young lady, I really wanted to get married as young as possible. As a post-modern human, I didn't want my parents to match me with somebody. Now I think it's okay but some people still believe it's not. It's okay.

Men are from Mars, Women are from Venus; that's why they met on Earth.

Menurut saya ini bisa menjelaskan kenapa cewek sama cowok itu beda banget, and they need something that can unite them. Cewek itu otaknya visioner banget. Bisa aja cowok sama cewek baru pedekate tapi ceweknya udah mikirin gimana kalo mereka pacaran, gimana kalo ngenalin pacarnya ke orang tua, gimana kalo mereka nikah, punya anak, bla bla bla bla. Cowok kalo tau isi otaknya cewek kayaknya bakalan ngerasa ngeri banget.

Tapi cewek memang berpikir seperti itu. I do, too. Pembelaan saya sederhana: "How would I want to build a relationship but I don't have a willingness to be with him for the rest of my life?" I can't be with a guy that cannot fulfill my future visions. Some of my visions maybe very wild, though. I need to imagine how me and him looks like carrying a baby, visiting my grandpa. If I don't like my vision, this guy can't be with me. I also need to picture me and him kissing. If I don't feel the willingness of kissing him, why would I want him to be my husband?

Sayangnya (atau untungnya), hidup nggak berjalan seperti itu. Some relationships don't work well, and some of us fall in love with people we never expect before. Bisa aja dia tetangga kita, temen dari kecil, atau orang asing yang nggak pernah kita temui sebelumnya, bahkan sahabat kental yang nggak pernah kita duga. Anything can happen.

Let's get back to line.

Pernah nemuin cewek yang ngebet banget pengen nikah, dan udah ngasitau seluruh dunia gimana pernikahan impiannya? Biarin aja. Cewek emang kayak gitu. 

Back then, I was so naive by creating so many dream marriages. Saya masih punya beberapa, pastinya. Cuma, saya lagi belajar buat meredam keinginan itu sedalam mungkin and less expect about it, supaya saya nggak berkelana sampe utopia kemudian sadar kalo dunia itu nggak nyata. And then I get back to Earth, falling really hard. 

Nggak salah punya mimpi, tapi jangan lupa juga untuk realistis. Pengen nikah muda? Emangnya pacar kamu udah siap? Atau cuma kamu doang yang siap? Apa? Pacar kamu bilang dia siap? Yakin dia nggak bilang gitu cuma buat nyenengin kamu?

I know a couple dimana ceweknya udah ngebet banget nikah tapi cowoknya cuek-cuek aja. Ceweknya ini, kalo kamu kasih dia foto-foto resepsi pernikahan dari axioodotcom, dia pasti jerit-jerit terkagum-kagum, langsung bilang pengen nikah. Kayaknya kalo SEKARANGJUGA cowoknya tiba-tiba ngajakin nikah, cewek ini pasti langsung mau nggak pake mikir. 

Kalo liat foto bayi lucu-lucu, langsung pengen punya anak. Yah, saya juga gitu. Tapi bisa disubstitute sih. Kalo misalnya orang tua saya ngasi adek lagi, I would be more than happy huahahaha.

Yang kasian sih cowoknya (kalo emang cowoknya belum mikirin sama sekali buat nikah dalam waktu dekat). Namanya juga laki-laki, kan pengennya ngejer karir dulu, pengen main dulu, nunda nikah selama mungkin, bujang selama mungkin, sebelum mereka terikat pernikahan. Tapi ceweknya udah nebar kode kemanapun mereka pergi, kapanpun dan dimanapun. Ada keponakan lucu, foto bertiga, diupload ke social media. Kalo ada yang ngomenin lucu manis-manis muji betapa cocoknya mereka bertiga buat jadi satu keluarga, senengnya bukan main. Semua doa diamin-aminin. Ya bagus sih kalo doa baik diamin-aminin, there's nothing wrong with that. Nggak masalah juga kalo cowoknya juga nyambut. Lha kalo cowoknya cuek-cuek aja? Saya sih sebagai pengamat malah ngerasa kasihan sama ceweknya.

Lagian, yakin udah siap membangun rumah tangga? Ngehadapin prahara seumur hidup? Good luck.

Selanjutnya tentu masalah uang. I had this very interesting conversation with a friend of mine which is a boy, about Dana Pernikahan dan Apa-Apa yang Ngintil di Belakangnya.

"Suv, kemarin saya kan ikut ngebantuin persiapan nikahan saudara. Ternyata nikah dan berkeluarga biayanya gede banget ya."

"Ya emang." I said.

"Ya maksudnya, coba pikir deh. Nikah aja kan butuh resepsi, ngedatengin penghulu, acara hiburan, katering, undangan, seserahan, mas kawin. Belum lagi ntar kalo udah nikah. Beli rumah, kendaraan, furnitur, kalo punya anak, peralatan bayi, biaya masuk sekolah, pakaian baju-baju, asuransi, uang jajan, gadget, pengeluaran nggak terduga. Banyak ya, Suv. Banyak banget. Gimana cara dapetin uangnya, Suv?"

Tuh, cowok tuh sebenernya mikirin tentang pernikahan, tapi yang mereka pikirin ya duitnya. How much it will cost to create women's happiness. Mereka berusaha lho buat bikin kita ciwi-ciwi ini seneng. Jangan dikira mereka nggak mikirin apa-apa. Apalagi kalo pernikahan impian ceweknya semegah yang ada di axioodotcom itu. Modyar. 

Kalo anaknya orang kaya punya kilang minyak dimana-mana sih ya terserah sih. Hahahaha.

Let's get realistic aja. Sebagai cewek jaman sekarang, kita juga nggak bisa bergantung sepenuhnya sama suami. Nggak malu apa minta-minta terus? Saya sih malu. Pengennya punya penghasilan sendiri nantinya, jadi kalo mau belanja-belanji nggak minta terus. Bantu suami juga. Pengennya sih gitu broooooooooooooo.

Lagian, ngurusin anak kan nggak gampang. Ngebesarin anak satu butuh sedesa. Nggak percaya? Yaudah, hahaha. Saya emang belum pernah punya anak, tapi saya juga ikut ngurus adek saya, dulu. Saya punya adek waktu saya masih kelas lima SD. Kalo kata orang tua saya sih, umur segitu udah bisa ngemong bayi. Saya disuruh ikut ngurus bayi, biar nggak kaget nanti kalo punya anak. So, I had to learn how to carry a baby properly, ngeganti popok, bahkan nyuci popok yang masih ada tai-tai encer itu loh. Sumpah deh itu muntah-muntah mulu pas nyucinya. Feses bayi emang nggak sebau feses orang dewasa, tapi bukan berarti nggak bau. Belum lagi kalo nangis malem-malem, bisa satu isi rumah nggak bisa tidur. Kalo ngompol tapi ngelewatin batas perlak, kudu nyuci seprai, jemur kasur. And it's not easy. Nyeduh bubur, bikinin susu yang bisa sehari belasan kali. Nggak mudah. Ngurus anak orang lain aja nggak gampang, gimana ngurus anak sendiri? Harus bener-bener siap. Karena, sekalinya tu anak lahir, tanggung jawabnya selamanya.

Making love only takes five minutes. Pregnancy only lasts for nine months and ten days. The responsibility? It haunts you for the rest of your life.

Jadi, kalo saya sih mendingan kerja dulu lah. Pengen sih nikah muda, tapi saya juga nggak mau ngerepotin. Jadi nahan-nahan dulu pengen nikahnya. Nggak enak juga kalo saya ngebet-ngebet tapi cowok idamannya nggak mau. 

Gimanapun isi otaknya, keadaannya, kalo emang udah siap semua ya mendingan nikah, sih. Yang penting kedua belah pihak bahagia dan nggak ngerasa dipaksa/dirugiin.

Semoga bahagia, semuanya!

Friday, 15 November 2013

Daddy's Call

I woke up this morning to the sound of my phone ringing. There was a call from my dad. He asked me whether I had received the phone credits he sent me, I said yes. Then he asked me a few questions about my conditions; do I need something more, am I alright, and so on and so forth. Then he told me not to worry about finishing my thesis, which relieves me so much. He told me its his job and my mother's job to make sure their children doesn't feel lack of anything. I nearly cried at that time because it felt like my dad had just read the writing I posted just a night ago. I think parents' feelings to their daughters and sons are just that strong. It's like they know everything and always knowing how to make their children calm again.

I do not always adore my parents; there are times when I'm really just sick of what they're saying and what they're doing. Sometimes I'm mad to them. I think it's just a phase everyone has with their parents, don't they? Doesn't mean I don't love them, though. I love them very much, I want to make them proud of me.

Again and again, I hope my grandfather gets well really soon. If you read this and pray for my grandfather too, I really am thankful for praying with me.

May Allah always bless you, good people.

My Love For You Is Cheesy, I'm Sorry

Sometimes I just run out of words for showing you how much you mean to me. It's not easy, you know, loving you. I have to cope with your indifferences, your rudeness (yes, you're rude), your selfishness, and so on. Yet, I can't help but falling in love with you every day.

Sometimes I'm afraid I may be exaggerated. It's just me. When I fall in love with someone, I put all my heart into it. Sometimes I may be annoying and very very protective. It's just my way of loving you; I hope you're not bored. I do hope I could make it less, you know, my protectiveness. My insecurity. Yes. I'm afraid of losing you. THAT MUCH.

Sometimes I feel like I want to explode and just give up holding you. Sometimes I feel like I deserve more than the way you treat me, but that's just not how love works. I realize I need to remember, that to love someone is to give, not to expect. Sometimes I get too busy expecting your attention, that I forget to give you mine. Sometimes I get too busy whining for what you don't do instead of appreciating what you have done to me.

I will fight for you until I'm tired. I will fight for you until I don't feel anything towards you, which I hope never happen.

I always want you to be happy, you know. No matter what.

Thursday, 14 November 2013

Below Expectation

Pernah nggak, ngerasa takut what you do in your life cannot fulfill the expectation from your parents? I'm currently on that state. Well, almost in my whole life, my parents (maybe) are proud of me because of my accomplishments during schools. Tapi sekarang? Saya takut. Takut kalo what I do is not enough yet buat mereka. Takut kalo apa yang dilakuin nggak bisa mencapai ekspektasi dan harapan mereka. And that's what burden me these few weeks.

It's because of my thesis, apparently.

Ngerjain thesis itu sebenernya bisa diburu-buru, but I don't like working that way. Saya pengennya thesis ini bisa jadi bagus, rapih, because it is my biggest project in my university life. Something that my parents cannot understand because they did not experience it. Not that I underestimate my parents ya. I'm really proud of them regardless their educational background. It's just that, it's hard to explain to my parents that this thesis is really important for me and that they just cannot force me. I will, I will definitely want to have it done in perfection, and not regretting it. I am, thinking about them every second and every breath. They do not need to worry. The problem is that my family is not the type of family that express all our feelings to each other. We rarely say 'I love you' just because we're not used to. We know we love each other. We just know it. Actually, everything went better since my younger brother was born.

Moreover, my father has just called me and telling me that my grandfather is in hospital. To be honest, that doesn't actually affect me. What concerns me more is my mother. I really want to go back home but I'm afraid that I will only give more burden to my mother. You know, she's the type of very honest person and if she's mad, she sometimes says......not good things.

I know my parents put really high expectations from me. I'm really really scared if I cannot meet the expectations. Takut banget kalo orang tua kecewa. I don't want too disappoint them tapi kadang-kadang capek juga diharepin tinggi-tinggi terus. Kadang-kadang saya juga pengen hidup 'agak' ngerasa lepas, tanpa ada harapan macem-macem dari orang tua, get relaxed sementara waktu, enjoying my life.

Is that selfish?

Auk ah. Sekarang mendingan berdoa dulu kali ya semoga kakek cepet sembuh, or diberi yang terbaik sama Allah SWT. Because, fyi, as far as I know kakek itu pernah curhat ke ibu kalo udah pengen kembali aja ke Allah, katanya udah capek hidup di dunia. maybe it's better of me to wish for the best for him.

Anyone who read this, minta doanya juga ya, semoga kakek saya diberikan apa yang dia butuhkan oleh Tuhan. Terima kasih banyak loh :)

Amiin.

Wednesday, 13 November 2013

Mencari Sesuap Nasi

Sebagai seseorang yang memiliki tujuan hidup, saya adalah salah seorang yang tujuan hidupnya berubah-ubah sesuai mood, ataupun tidak terduga. Beberapa bulan lalu, saya punya tujuan ingin magang di PR Agency, setahun sebelumnya saya ingin sekali bekerja di stasiun TV, percetakan, ataupun majalah dan koran. Kemudian, saya punya tekad untuk mencari sesuap nasi dan menetap di Bandung, bukan Jakarta (dengan berbagai alasan saya). Kini, entah kenapa, sepertinya saya ingin bekerja di Jakarta.

Tapi, alasan utama saya bukan karena uang yang (mungkin) melimpah.

Alasan utama saya masih passion. Saya masih ingin dibayar untuk menulis. Saya rindu menjadi sibuk, mengeluh atas sedikitnya waktu luang yang saya punyai. Rasanya lebih baik daripada mendapati diri saya tidak melakukan apapun kecuali mengerjakan skripsi, kemudian memiliki berjam-jam waktu luang meratapi diri saya yang belum berpenghasilan. Bagi saya, it's not an achievement.

And I'm not proud of that.

Saya kembali ingin bekerja di majalah, menjadi junior editor whatsoever, ketimbang bekerja di PR agency menghadapi klien-klien, menjual barang/produk yang belum tentu saya sukai. Saya ingin berada di balik meja, menulis yang banyak, kemudian berkeliling, berjalan-jalan setelah itu menuliskan apa yang saya alami. Saya ingin menulis yang banyak, banyak sekali.

Saya juga kembali ingin bekerja di percetakan, membaca banyak buku dan menulis yang banyak. I want to do what I love.

Tapi, jika saya memiliki kesempatan untuk mencapainya di Bandung, itu akan lebih baik lagi. Suasananya yang lebih hangat, lebih bersahabat, and less traffic jam, membuat saya ingin tinggal di kota ini lebih lama lagi.

More importantly, I want to start living independently, away from my parents. Not that I don't love them; I do, so much. I just want to explore my ability more and improve and develop myself more. Something that I believe (somehow) will not be able to be achieved with my parents behind my back all the time. I need to stand alone and struggling for myself.

First thing first, I need to have my thesis done by the end of this month. DEFINITELY.

Tuesday, 12 November 2013

Mengenai Ibadah

Jujur aja, akhir-akhir ini saya lagi jarang beribadah (kalau definisi ibadah adalah shalat lima waktu, apalagi membaca Al-Quran). I'm not proud of it, and I don't intend to tell it to everybody, though, because I think what for? 

The reason why I write this piece of curhatan is that I miss ibadah. Kangen, kangen merasa rindu sama Yang Maha Kuasa, kangen merasa butuh bicara sama Sang Pencipta. Because, you know lah the feeling of disuruh-suruh ibadah pake ancaman masuk neraka dll? That doesn't work for me (and maybe some other people). Soalnya ya, siapa sih yang suka disuruh-suruh tapi pakai ancaman? Bukannya pengen ngelakuin, malah makin males. Wrong approach.

Bukan berarti saya nggak pernah inget sama Tuhan. Bukan berarti saya mengabaikan Dia. Saya rindu merindukan Dia. Sayangnya, belum ada yang bisa memotivasi saya untuk bertemu dengannya (lagi) lewat shalat. Saya dalam kedudukan di mana saya merasa dengan mengingat-Nya banyak-banyak, saya sudah "bicara" dengan-Nya. I know I need to change that. I know anybody can help me, but only me can change myself.

Satu hal lagi yang bikin saya malah nggak termotivasi untuk jadi lebih rajin beribadah: orang-orang yang suka pamer kebaikannya dan "kedekatannya" dengan Tuhan di social media. I mean, bisa kan bedain mana yang sharing, mana yang pamer?

"Kangen Allah, abis baca Al-Quran hati jadi tenang banget subhanallah :')"

Kayak gitu misalnya. I'm sick reading that line.

Beda sama kalimat-kalimat yang misalnya langsung mengutip Al-Quran. Itu terasa lebih baik. Mengingatkan secara nggak langsung, dan kalo kita ngebaca ya, kita juga jadi beribadah. Kan enak di kedua belah pihak.

Why do you repot-repot ngasitau saya kalo you lagi shalat tahajud? Nggak penting. Totally nonsense to me. Nggak paham.

Saya punya beberapa teman yang ibadahnya jauh lebih rajin daripada saya, dan emang menyenangkan ngobrol sama mereka. Saya jadi termotivasi untuk jadi pribadi yang lebih baik, karena mereka juga baik. Saya jadi ingin hidup lebih teratur, karena mereka terlihat rapi dan tersusun hidupnya, juga akhlaknya.

Tapi ya jauh dalam hati saya, saya ingin jadi rajin. Nggak tau kenapa, di setiap jenjang pendidikan, ada aja yang bikin saya males. Untung kalo di rumah orang tua saya rewel nyuruhin saya shalat. Ngingetin saya juga untuk baca Al-Quran, meskipun nggak sering. At least, they remind me of God.

I have no particular reasons writing this except to express how I feel. I mean no offence to any party whatsoever.

Thank you for reading.

Wednesday, 23 October 2013

Future Plans

Susah ya jadi cewek umur 20-an, bawaannya udah pengen nikah aja padahal umur baru (atau udah?) 21 tahun. I mean, I can't wait to make plans with my future husband. I can't wait to spend my daily lifetime buying groceries, taking care of our children, nganterin sekolah setiap pagi, ngajakin jalan-jalan ke mall, piknik sekeluarga (me, you, and our children), ngajar sebagai dosen ilmu komunikasi di suatu universitas, bikin kopi buat kamu setiap pagi, nyiapin pakaian kerja, nungguin kamu pulang kerja, nemenin anak belajar, having intimate pillow talk, kemudian hidup bahagia selamanya setiap harinya.

I know life doesn't work that simple and that we have to work our ass off to get that list of things and it's really not easy. Tapi, wajar kan, as a young adult I have plans like that?

Aku nggak mau jadi istri yang sepenuhnya bergantung sama suami. Impian aku sebenernya simple. I want to be that fashionable Mom and wife yang bisa memenuhi keinginan dasarnya sendiri, independently. Misalnya beli tas dan sepatu using my own money, nggak minta-minta terus sama suami. Cooking everyday, kayak bucket list #1 yang tadi udah ditulis di postingan sebelumnya. I want my husband and kids to love my dishes. Jajan di luar boleh aja tapi mereka harus ngefavoritin apapun yang aku masak.

I don't need a very big house to live in. Aku nggak suka rumah yang terlalu luas karena ngebersihinnya susah, terus I don't really like very wide house kenapa ya, soalnya serem ._. Yang penting cukup untuk keluarga kita, nyaman, bersih, terang, dan nggak berhantu (I really mean it). Aku kepingin punya pembantu buat ngebersihin rumah, nyapu, ngepel, nyuci baju, nyetrika (simply because I don't like nyuci baju dan nyetrika), but not to babysit my kids and cook my meals, yang jelas.

Living life kayak Alexandra sama Beno Wicaksono (Divortiare & Twivortiare by Ika Natassa) itu udah keliatannya perfect life banget, loh. Both are having careers dan even though they're really different, they complete each other.

Aku mau punya suami yang berpengetahuan luas, lebih dari aku. Yang bisa ngedongeng buat anaknya (dan aku, tentunya), yang bisa nemenin anaknya tanding sepak bola, ngajarin main musik, nonton bola bareng and having fights about klub favorit siapa yang lebih hebat. As a wife and Mom, I will be busy preparing popcorns and nuts buat nemenin mereka nonton bola di TV, sambil ngomel-ngomel tentang gimana berantakannya ruang keluarga gara-gara mereka grasak-grusuk nontonnya.

I will be very angry to both my husband and son(s), but I will be very happy because I have them in my life.

My husband must be reliable. He has to be able to fix the antena TV yang mencla-mencle, sok-sokan ngutak-ngatik laptop yang rusak hardwarenya entah kenapa, nyetel motor supaya enak dipake (atau mungkin marahin aku yang males banget servis motor), ngelap-lapin mobil keluarga satu-satunya biar nggak malu-maluin, maupun ngajarin anak kita ngerjain peer yang dikumpul besoknya.

I want my husband to be the hero for our children. I want my husband to be the most favorite superhero being told in our children's essays assigned by their teachers in school. I want my husband to be the pride of the family, to be the frontman.

I want my future to not be perfect. I want it to be complex (or complicated) yet I will still be happy of my problems because I know I will not face it alone.

Most importantly, I want my husband to be you.

Tuesday, 22 October 2013

Bucket List #1

Barusan liat klip-klip dari film Julie and Julia (2007). Filmnya tentang memasak gitu deh. Honestly, aku nggak begitu bisa masak. At least for now soalnya belum ada motivasi buat belajar masak sih. As an excuse, bukannya males, cuma aku nggak suka aja kalo belajar masak tapi peralatan dan bahan nggak sesuai kebutuhan. Iya, Suvi emang rewel banget. Paham, kok.

Pengen belajar masaknya ntar kalo udah punya suami. Iya, emang masih lama, tapi itu termasuk ke dalam bucket list aku kok. Kalo ditanya orang, "Bisa masak nggak sih, Suv?" Mau ngejawab kayak gitu ya gimana ya. Tapi, emang pengennya gitu. I want my husband (and kids) to be the most special people to taste my cooks. Humbly bragging, my dishes don't taste bad loh. Ahahaha. Nggak tau kenapa, sekarang nih belum punya keinginan buat belajar masak. Pengennya tuh masak yang aneh-aneh sekalian, nyobain resep-resep ajaib (tapi tetep makes sense buat lidah orang Indonesia pada umumnya).

Di film Julie and Julia itu, pemeran Julianya punya proyek pribadi gitu buat masak 365 resep berbeda selama setahun penuh. Jadi kepengen juga kayak gitu kan. I always tergoda kalo liat buku resep masakan, nonton acara masak-memasak (I mean, who doesn't?), dan acara yang ada makanannya. Selalu bikin pengen. And I want to try the dishes. Pengen masak yang kayak gitu. I want my family to be happy eating my dishes.

So, here comes my #1 bucket list: To cook (at least) one different recipe everyday for a full year.